Isnin, 11 Jun 2012

Tentang Sejarah Islam



Jika disebut sejarah, yang sering terlintas dalam benak kita adalah tentang catatan-catatan tahun terjadinya berbagai peristiwa, yang harus dihapal, terutama pada saat ujian tiba. Bagi sebagian orang, ini amat membosankan.
Dalam bahasa Arab, untuk menunjukkan sejarah, sering digunakan terma tarikh dan qishah dan untuk biografi sering dengan mengunakan terma sirah. Al Quran lebih banyak menggunakan terma qishah untuk menunjukkan sejarah, dengan pengertian sebagai ekplanasi terhadap peristiwa sejarah yang dihadapi oleh para Rasul(1). Dalam bahasa Indonesia, sejarah sebagai istilah diangkat dari terma bahasa Arab 'syajaratun' yang berarti pohon. Kata ini memberikan gambaran pendekatan ilmu sejarah yang lebih analogis; karena memberikan gambaran pertumbuhan peradaban manusia dengan "pohon", yang tumbuh dari biji yang kecil menjadi pohon yang rindang dan berkesinambungan(2). Dalam ayat-ayat Al Quran: 2:35; 7:10,22; 14: 24,26; 17:60; 20: 120; 23: 20; 24: 35; 28: 30; 31:27; 37: 62,64,146; 44: 43 dapat ditarik kesimpulan, pengertian syajarah berkaitan erat dengan "perubahan" (change). Perubahan yang bermakna "gerak" (movement) menuju bumi untuk menerima dan menjalankan fungsinya sebagai khalifah (QS. 2:35; 7:19, 22). Juga merupakan gambaran keberhasilan yang dicapai oleh Musa a.s., yang digambarkan dengan pohon yang tinggi dan tumbuh di tempat yang tinggi (QS. 28: 30). Sebaliknya, ia juga memberikan gambaran kegagalan Nabi Yunus a.s. yang dilukiskan sebagai "pohon labu" yang rendah dan lemah (QS. 37: 146). Bagi yang mencoba menciptakan sejarah dengan menjauhkan dirinya dari petunjuk Allah, hasilnya menumbuhkan "pohon pahit" (syajaratuz zaqqum) (QS. 37:62, 64 dan 44: 43). Petunjuk Allah pun diibaratkan pula sebagai "pelita kaca yang bercahaya seperti mutiara" dan dinyalakan dengan bahan bakar min syajaratin mubarakah (QS. 24: 35). (3)
Setiap pelaku sejarah hakikatnya tidak mengetahui hasil perubahan yang direncanakannya (4). Maka setiap orang tidak dapat memastikan "masa depannya". Masa depan adalah gudang ketidakpastian. Hanya fakta-fakta sejarah yang dapat diketahui; dan kita hanya dapat mempunyai pengetahuan positif tentang masa lampau. Sedangkan masa depan adalah ladang ketidakpastian, juga merupakan bagian atas mana kita mempunyai sedikit kekuasaan.
Kemampuan untuk membentuk masa depan sendiri dimiliki oleh semua individu dan masyarakat. Ketidakmampuan kita untuk mengetahui fakta-fakta masa depan atau masa-depan-masa-depan diimbangi oleh kemampuan kita memberi masukan bagi pembentukan fakta-fakta ini (5).
Oleh karena itu, Al Quran memerintahkan manusia untuk menyiapkan masa depannya dengan mempelajari sejarah yang telah dilaluinya (6). Dalam penuturan kembali kisah umat-umat terdahulu, Al Quran berkali-kali mengingatkan bahwa dalam kisah-kisah tersebut terkandung ibrah--pelajaran yang dapat dipetik oleh umat Islam (7). Pelajaran atau mau'izhah yang terdapat dalam Al Quran adalah "hukum sejarah" yang terpolakan dalam 25 peristiwa kerasulan. Dari peristiwa kerasulaan tersebut disimpulkan lagi menjadi 5 persitiwa sejarah kerasulan. Kelima peristiwa sejarah ini dialami oleh Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s, dan terakhir adalah Nabi Muhammad Saw. Umat Islam dituntut untuk "menangkap pesan-pesan sejarah yang terumuskan dalam peristiwa Ulul Azmi tersebut", sehingga umat Islam tidak saja mengetahui "guna sejarah" tetapi sekaligus "akan mampu memanfaatkannya" sesuai dengan fungsinya masing-masing. (8)
Ketika ada seseorang yang berkata history is bunk--sejarah adalah omong kosong, Soekarno segera berkomentar: "Seorang penulis berkata, "mempelajari sejarah adalah omong kosong". "History is bunk", katanya. Penulis ini tidak benar. Sejarah adalah berguna sekali. Dari mempelajari sejarah orang bisa menemukan hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia. Salah satu hukum itu ialah: Bahwa tidak ada bangsa bisa menjadi besar 'zonder' kerja. Terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran bangsa-bangsa dan kemakmuran tidak pernah jatuh gratis dari langit. Kebesaran-bangsa dan kemakmuran selalu "kristalisasi" keringat. Ini adalah hukum, yang kita temukan dari mempelajari sejarah. Bangsa Indonesia, tariklah moral dari hukum ini!" (9).
Esensi sejarah adalah perubahan. Dan tugas hidup manusia di bumi adalah "menciptakan perubahan sejarah" (khalifah). Perubahan sejarah yang akan terjadi merupakan pengulangan dari peristiwa yang telah terumuskan dalam Al Quran, yang terpolakan dalam 25 peristiwa sejarah kerasulan. Peristiwa yang pernah terjadi bukanlah merupakan masa lalu yang mati, melainkan sebagai peristiwa yang tetap hidup di masa kini (10).
Dari uraian di atas, kita dapat menangkap dengan jelas urgensi sejarah bagi pembangunan kembali peradaban umat Islam. Namun, problem yang dihadapi kemudian adalah, ketika umat Islam menatap kembali sejarahnya yang telah lalu, ada beberapa kendala yang menghalangi pandangan tersebut. Sehingga tidak dihasilkan suatu pandangan yang benar-benar jernih. Oleh karena itu, Muhammad Quthb menyarankan untuk menulis ulang sejarah umat Islam. Ada beberapa hal, menurut Muhammad Quthb, yang mengharuskan umat Islam untuk menyusun kembali sejarahnya.
Antara lain adalah:
a. Kitab-kitab sejarah umat Islam, yang ditulis oleh ulama-ulama terdahulu, merupakan sebuah kompilasi sejarah yang demikian besar. Namun, ia hanya cocok untuk para periset, tidak untuk orang awam, yang ingin mendapatkan kesimpulan yang cepat. Sehingga kitab-kitab tersebut tidak menarik untuk dibaca oleh khalayak ramai. Hal itu terjadi karena para ulama tersebut amat memegang amanah ilmiah. Sehingga mereka menulis semua yang mereka ketahui dan mereka dengar dalam kitab sejarah mereka. Meskipun isinya adalah pengulangan atau saling bertentangan satu sama lain, atau malah sesuatu yang jauh kemungkinan terjadi. Bagi mereka, amanah ilmiah adalah dengan menulis semua yang mereka tahu dan mereka dengar (11). Dalam mukaddimah kitab tarikhnya, Thabari berkata: "Jika ada suatu catatan sejarah yang tertulis dalam kitab kami ini, yang dipungkiri oleh pembaca atau tidak sedap didengar, karena jauh sekali dari kebenaran dan tidak bermakna sama sekali, maka perlu diketahui, itu semua bukan karena kesengajaan kami, namun datang dari orang-orang yang menyampaikan berita itu kepada kami. Sedangkan kami hanya menyampaikannya sesuai dengan apa yang kami terima" (12).
b. Jika kita membaca buku-buku sejarah yang ditulis pada masa modern ini, baik oleh orientalis maupun murid atau orang-orang yang terpengaruh oleh mereka, kita dapati bentuk maupun penyajian buku tersebut menarik. Enak dibaca dan dapat memberikan pemahaman yang cepat kepada pembacanya. Namun, banyak dari buku-buku tersebut ditulis tidak dengan semangat amanah ilmiah, atau memang ditujukan untuk suatu tujuan tertentu. Sehingga banyak terjadi pemutar balikkan fakta atau penarikan kesimpulan yang gegabah. Contohnya adalah: Will Durant, ketika mendapati suatu catatan sejarah yang mengatakan: "Zubair mempunyai seribu orang hamba sahaya yang membayarkan kharaj mereka kepadanya setiap hari, namun semua uang itu tidak satu dirhampun yang masuk ke rumahnya, karena semuanya habis ia sedekahkan". Ia merubahnya menjadi: "Zubair mempunyai rumah di berbagai kota, ia juga mempunyai seribu ekor kuda dan sepuluh ribuh hamba sahaya". Di sini, sosok Zubair yang zuhud diubah oleh penulis menjadi sebuah sosok yang glamour dan penuh kemewahan (13). Dan banyak contoh-contoh lainnya, sehingga bagi pembaca yang tidak teliti, akan terperangkap oleh sikap membenci atau mencela umat Islam terdahulu.
c. Penulisan sejarah dewasa ini, banyak didominasi oleh penekanan pada sisi politik. Dan mengesampingkan sisi lainnya yang demikian banyak. Seperti akidah, pemikiran, peradaban, ilmiah, sosial dan seterusnya. Padahal, sejarah politik Islam, adalah sisi yang paling buruk dari sisi lainnya. Yang dituntut dari para sejarahwan Islam adalah, tidak hanya memusatkan diri pada sejarah pergulatan politik umat Islam, juga hendaknya menampilkan sisi lain yang demikian banyak. Sehingga tercipta sejarah yang seimbang. Pengajaran sejarah Islam dengan tekanan pada sisi politik beserta segala tipu muslihatnya, seperti pembunuhan, penipuan, meracun musuh, pembasmian musuh-musuh politik dan tindakan-tindakan kotor lainnya, adalah sebuah konsep yang diterapkan oleh Dunlop, yang ditunjuk oleh Lord Cromer sebagai konsultan ahli kementerian pendidikan Mesir. Setelah memberikan pengajaran seperti itu tentang sejarah Islam, kepada anak didik, mereka melanjutkan dengan mengajarkan sejarah Eropa yang digambarkan dengan berkilauan, berperadaban, maju dan seterusnya. Sehingga tertanamkan dalam jiwa anak didik, bahwa Islam yang hakiki telah lenyap setelah masa Khulafa Rasyidin yang empat, setelah itu, yang terjadi adalah kekotoran dan kekejian yang harus dihindari, dan tidak ada sesuatupun yang pantas untuk dibanggakan atau diketengahkan kepada umat manusia. Kemudian tertanamkan pula bahwa sejarah yang pantas untuk dikagumi dan cintai dengan sungguh-sungguh adalah sejarah Eropa! (14).
d. Dalam mengkaji sejarah Islam, kita sering mengembalikan segala sesuatu kepada faktor-faktor politik, peperangan, ekonomi dan sebagainya. Sehingga, seakan-akan agama ini hanyalah sebuah budaya yang sama dengan budaya yang lain. Tidak mempunyai kaitan dengan hukum-hukum (sunnah-sunnah) Allah Swt. Ini pula yang tampak dalam tulisan Michel H.Hart ketika meletakkan Nabi Muhammad Saw. di urutan teratas dari seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Betul ia meletakkan Nabi Muhammad Saw. di urutan teratas, namun dalam penulisan dan alasan-alasan penempatannya, ia tidak mengkaitkan pribadi Nabi Muhammad Saw. dengan kedudukannya sebagai seorang utusan Allah Swt.
e. Dalam mengkaji sejarah umat Islam, kita sering melupakaan hubungan antara karakteristik umat ini, yang telah dianugerahkan Allah Swt. dengan kondisi kemanusiaan dengan segala aspeknya. Umat Islam, bukanlah hanya sekedar sebuah fenomena sejarah yang kebetulan timbul ke permukaan. Namun, ia adalah umat tauhid yang besar, yang dipilih Allah Swt. Sebagai saksi atas seluruh manusia. Allah Swt. befirman: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al Baqarah: 143). Demikian juga, kita sering melupakan pengaruh yang dihasilkan oleh umat Islam terhadap kemanusiaan sepanjang sejarah (15).
Padahal, seperti diakui oleh banyak ilmuan Barat yang fair, ilmuan Islamlah yang telah mengantarkan bangsa Barat menuju kemodernannya saat ini. Tentang Roger Bacon, bapak kebangkitan ilmu pengetahuan (renaissance) Barat, Robert Briffault berkata: "Roger Bacon belajar bahasa Arab dan ilmu Arab dan ilmu-ilmu kearaban di Universitas Oxford dari bekas dosen-dosen Arab di Andalusia. Roger Bacon dan siapapun orang yang datang setelahnya tidak mempunyai hak untuk mengaku sebagai orang yang menemukan metode eksprimentalisme. Roger bacon hanyalah seorang duta dari duta-duta ilmu pengetahuan dan metodologi umat Islam kepada orang-orang Kristen Eropa" (16).
Dari konsideran-konsideran di atas, dapat dikatakan, usaha untuk menatap sejarah Islam dengan penekanan pada sisi peradaban dan ilmu pengetahuan adalah amat terpuji. Dan usaha seperti itu harus terus digalakkan dalam skala yang lebih luas dan dengan perhatiannya yang lebih intens. Karena dari sanalah, nantinya, diharapkan umat Islam menemukan kembali --seperti dikatakan oleh Syed Ameer Ali (17) dan sering dikutip oleh Soekarno-- api Islam yang sebenarnya.
Abdul Hayyie al Kattani, Lc
(Dewan Asaatid Pesantren Virtual)

 

 

Catatan:

1. Lihat, misalnya: QS. 12: 111
2. Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Bandung, Mizan, cet. 1, 1995, hal. 20
3. Sca. Hal. 22-23.
4. Lihat: QS. 31: 34
5. Lihat: Ziauddin Sardar, Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come, Mansell Publishing Limited, London, 1985. Edisi bahasa Indonesia: hal. 1-2.
6. QS. 59: 18
7. Lihat, misalnya: QS. 12: 111
8. Scn.2, hal. 24-26
9. Diucapkan oleh Presiden Soerkarno pada Hari Ulang Tahun Proklamasi RI VI. Lihat Di Bawah Bendera Revolusi, Vol. II.
10. QS.2: 154
11. Muhammad Quthb, Kaifa naktubu at-tarikh al Islami, Dar Syuruq, Kairo, cet. 1, 1992, hal. 11-12.
12. Lihat: Tarikh Thabary, vol. 1, hal. 8, tahqiq, Muhamad Abul Fadl Ibrahim, cet. IV, Darul Ma'arif, Mesir.
13. Scn. 11. Hal. 15
14. Sca. Hal. 16-18
15. Sca. Hal. 24-26
16. Seperti dikutip oleh Sayyid Quthb, dalam Al Islam Wa Musykilat al Hadlarah, Kairo, Dar Syuruq, cet. 12, Hal.37
17. Dan menjadi judul bukunya: The Spirit of Islam.


Hijrah dorong bebaskan umat Islam dari belenggu penjajahan moden


Hijrah bukan sekadar perpindahan Nabi saw dan para sahabat dari Mekah ke Madinah. Tetapi lebih dari itu.

Hijrah juga bukan sekadar perarakan, nyanyi lagu Maal Hijrah, ada persembahan nasyid, ada ceramah, adakan tema tahunan, tokoh Maal Hijrah seperti yang kita lihat di negara kita ini. Kalaulah itu yang kita faham pasal 'hijrah' maka sesungguhnya kita sebenarnya masih belum faham Sirah Nabi.

Nabi saw berhijrah selepas menerima wahyu. Penghijrahan Nabi saw merupakan satu strategi dakwah yang paling hebat. Hijrahnya Nabi saw bukannya semudah pemusafiran kita pada hari ini. Baginda melaksanakan arahan hijrah berbekalkan iman dan tawakal yang mutlak kepada Allah.

Hijrah adalah dalil yang menunjukkan Islam dan politik tidak boleh dipisahkan. Ia membuktikan Islam perlu memerintah dan bukan diperintah. Hijrah juga menunjukkan Islam itu sebenarnya agama yang lengkap dengan semua sistem hidup yang diperlukan.

Mereka yang kata Islam dan politik tiada kaitan adalah mereka yang tidak mengkaji Sirah Nabi saw. Kalau sekadar mahu melakukan ibadat ritual seperti solat, puasa dan haji, di Mekah pun baginda dan para sahabat boleh melakukannya. Kalau Islam itu sekadar bersifat ibadah ritual dan peribadi, kenapa pembesar Musyrikin Mekah takut akan Islam dan baginda saw perlu berhijrah?

Ketakutan para pembesar Mekah melihat dakwah Islam Nabi saw semakin berkembang, sama lah seperti takutnya para pemimpin sekular hari ini melihat gerakan-gerakan Islam bangkit di seluruh dunia dan mula menguasai massa. Kalaulah pilihanraya di seluruh dunia ini berlaku dengan adil dan saksama, sudah pasti majoriti negara hari ini diperintah oleh pemimpin Islam yang sebenar.

Tuduhan para pembesar Mekah terhadap baginda dan para sahabat, "Kalian pemecah belah perpaduan kaum Arab, Muhammad itu penyihir! Muhammad itu penipu! Muhammad itu pendusta!" juga adalah sama dengan tuduhan para pemimpin sekular terhadap gerakan Islam yang mengatakan pendokong gerakan Islam adalah pengkhianat negara, pemecah perpaduan, kaki penipu, tidak intelek, jumud,pengganas dan sebagainya.

Hijrah yang pertama ke Habsyah, yang diperintah oleh an-Najasy, menunjukkan juga betapa pemimpin Mekah tidak habis-habis mahu memfintah dan mengadu domba mengenai Islam. Tetapi kebijaksanaan an-Najasy berjaya mematahkan konspirasi mereka. Sikap yang sama juga ditunjukan oleh para orientalis, golongan liberalis, golongan kapitalis serta para sekularis yang tidak habis-habis mahu memburukkan imej Islam melalui media dengan mengatakan Islam menaja keganasan, Islam tidak mampu menyelesaikan masalah manusia, Islam penganjur kemunduran, Islam cukup sebagai ibadat ritual, Islam tidak universal dan pelbagai lagi tohmahan nista yang mahu menutup cahaya Allah ini.

Nabi saw disambut dengan nasyid 'Tola'al Badru' dengan penuh kegembiraan oleh para penduduk Madinah setelah mesej Islam yang sebenar telah berjaya disampaikan oleh para Naqib yang dilatih semasa perjanjian-perjanjian Aqabah. Namun disebalik kegembiraan itu, pihak Yahudi dan munafik adalah golongan yang pedih menerima hakikat kedatangan Baginda kerana mereka tahu kezaliman dan penindasan mereka akan berjaya dihalang oleh Islam.

Justeru pada hari ini tidak hairanlah kalau segala kezaliman dan penindasan terhadap umat Islam ditaja oleh para pemodal yang berhati busuk ini kerana mereka sudah tahu akibatnya, iaitu kehilangan wang dan kuasa kerana Islam apabila memerintah, seluruh rakyat akan ditadbir dengan penuh adil dan saksama. Segala monopoli ekonomi akan dibanteras oleh Islam.

Hijrah adalah proses pembinaan negara. Pembinaan sebuah kerajaan yang mahu menyelamatkan manusia dari perhambaan sesama manusia kepada perhambaan kepada Allah yang satu. Mewujudkan negara yang berteraskan kepada segala nilai dan undang-undang yang baik yang diambil dari Quran dan Sunnah. Ini adalah konsep hijrah yang perlu kita fahami baik-baik.

Sahabat Nabi saw berhijrah dengan sehelai sepinggang. Pengorbanan. Demi untuk melihat Islam memerintah. Abdul Rahman al-Auf, seorang saudagar terpaksa meninggalkan segala kekayaannya di Mekah. Bukanya beliau seorang, tetapi ramai lagi yang begitu. Bekalannya adalah iman dan taqwa.

Hari ini mereka yang berkata tentang Islam juga perlu berdepan dengan risiko sebegitu. Imam, Khatib, jurudakwah yang berkata kalimah yang haq di masjid-masjid akan berdepan dengan risiko kehilangan pendapatan. Pelajar yang komited dengan Islam juga menerima pelbagai ugutan yang tidak masuk dek akal. Para kakitangan kerajaan yang mahukan Islam juga pasti berdepan dengan tindakan tatatertib dan buang kerja. Pengorbanan yang kecil berbanding yang telah ditempuh oleh baginda dan para sahabat.

Persaudaraan yang sebenar telah ditunjukkan oleh kaum Ansar apabila mereka sanggup berkongsi kekayaan dengan kaum Muhajirin. Kalau ada isteri lebih, mereka sanggup ceraikan dan beri pada kaum Muhajirin yang keseorangan. Semua penduduk Madinah berebut-rebut mahu Baginda menetap di rumahnya. Adakah persaudaraan kita sesama Islam pada hari ini sudah di tahap itu atau lebih suka bercakaran sesama sendiri?

Kedatangan Nabi saw ke Madinah dimulakan dengan pembinaan masjid Quba'. Simbolik kepada umat Islam bahawa setiap perbuatan baik itu perlu dihubungkan dengan Allah swt. Juga untuk memberitahu bahawa masjid adalah pusat aktiviti utama umat Islam bagi segala urusan. Sekali lagi sebagai dalil, masjid dan urusan dunia perlu berjalan seiring dan seimbang. Bukan untuk memisahkan urusan dunia dan agama secara berasingan seperti mana yang diterapkan oleh golongan sekular.

Bukan mudah untuk berhijrah. Tanpa kekuatan iman dan taqwa maka tidak mungkin kita boleh berhijrah. Kalau mahu hidup selesa 24 jam, cukup makan minum, cukup tidurnya serta tidak mahu susah seperti yang dialami oleh Baginda dan para sahabat, usah bercakap pasal perjuangan Islam.

Saidina Umar ra mencabar kekuasaan pembesar Mekah agar menghalang beliau dari berhijrah. Tetapi kerana sifat penakut yang ada pada musyrikin Mekah, yang lebih takutkan mati dan mahu hidup senang, maka Saidina Umar dibiarkan hijrah tanpa tentangan. Sedangkan kekuatan teknologi senjata Musyrikin Mekah jauh lebih hebat dari Saidina Umar yang keseorangan.

Ini adalah bukti betapa takutnya musuh-musuh Islam kepada Muslim yang benar-benar bertaqwa. Negara sekular tutup mata kalau sahabat sekularnya ada senjata nuklear, tetapi takut macam tikus betina kalau dengar ada orang Muslim yang mampu buat senjata nuklear juga.

Itulah asas kekuatan umat Islam, iman dan taqwa. Persenjataan secanggih mana pun tidak boleh merobohkan kekuatan umat Islam ini. Iman dan taqwa itu sumbernya dari al-Quran dan as-Sunnah, kerana itulah musuh-musuh Islam tidak berputus asa agar umat Islam hidup berkiblatkan ideologi ciptaan manusia yang merapu-rapu agar kita tidak lagi mampu dalam suasana Islam yang tulen.

Hijrah adalah kewajipan setiap Muslim. Iaitu mendirikan sebuah negara yang adil dan menjaga kemaslahatan seluruh rakyatnya berteraskan Quran dan Sunnah. Hijrah ini adalah antara sunnah besar Nabi saw yang wajib diikuti sampai bila-bila.

Salam Maal Hijrah 1425. Semoga kita terus menghayati semangat hijrah yang telah ditunjukkan oleh Nabi dan para sahabat dalam segenap hidup kita.

Wallahua'lam.

kata-kata renungan buat semua

  1. Ingat, hidup kita cuma sekali hiaslah hidup kita dengan penuh keceriaan dan kasih sayang, tapi jangan lupa selimutlah dengan keimanan, maka hidup kita akan bahagia di dunia dan akhirat.  
  2. Hiduplah sebagai mana yang kau sukai tetapi ingat bahawasanya engkau akan mati, pada sesiapa yang engkau kasihi, tetapi jangan lupa bahawasanya engkau akan berpisah dengannya dan buatlah apa yang engkau kehendaki, tetapi ketahuilah bahawasanya engkau akan menerima balasan yang setimpal dengannya.   
  3. Agama tidak melarang sesuatu perbuatan kalau perbuatan itu tidak merosak jiwa, agama tidak menyuruh kalau suruhan itu membawa selamat dan bahagia.
  4. Usah terlalu fikirkan apa yang akan kita perolehi sebaliknya satukan fokus dan tenaga kepada tindakan yang mahu dilakukan. Sebab kejayaan besar yang diimpikan esok hari adalah himpunan kejayaan-kejayaan kecil yang diperolehi setiap hari. Jika langkah-langkah kecil kita setiap hari membawa kita kearah kecemerlangan dunia dan akhirat maka berjayalah kita. Ingat, kejayaan bukan satu destinasi tetapi sebaliknya satu perjalanan. Siapa kita dipenghujung hidup jauh lebih penting daripada apa yang kita perolehi. Fikir-fikirkan dan sebar-sebarkan.